8.3.7 Kesopanan dan Menundukkan Pandangan
8.3.7 Modesty and Lowering the Gaze
Bagian dari ketentuan untuk menjaga kehormatan dan martabat laki-laki maupun perempuan dalam Islam terdapat pada pengaturan cara mereka saling memandang. Haram bagi laki-laki Muslim untuk memandang perempuan mana pun dengan niat syahwat, kecuali istrinya. Demikian pula bagi perempuan Muslimah terhadap laki-laki lain.
Part of the provision of maintaining the dignity and honour of men and women in Islam is in the regulation of the way they are regarded by each other. It is forbidden for the Muslim man to look at any woman with lustful intentions, except for his wife. The same is true for a Muslim woman with regard to other men.
Sebaliknya, penekanannya adalah pada menundukkan pandangan dari lawan jenis pada saat mereka hadir, seperti di jalan atau di pasar. Allah (SWT) berfirman,...
Rather, the emphasis is on lowering the gaze away from members of the opposite sex at times when they are present, like in the streets or the market place. Allah (swt) says,..
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya." [QS. 24:30-31] Jarir bin ‘Abdullah meriwayatkan, "Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang pandangan yang tiba-tiba (jatuh) pada wajah (seorang non-mahram). Beliau ﷺ memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku." (HR. Muslim)
“Say to the believing men that they should lower their gaze and guard their modesty, that will make for greater purity for them, and Allah is well acquainted with all that they do. And say to the believing women that they should lower their gaze and guard their modesty.” [TMQ 24:30-31] Jarir ibn ‘Abdullah reported, “I asked Allah’s Messenger about the sudden glance (that is cast) on the face (of a non-mahram). He commanded me that I should turn away my eyes.” Muslim.
Prinsip ini mencerminkan bahwa cara pandang kaum Muslim, pria dan wanita, satu sama lain sangat berbeda dengan cara Barat, di mana wanita dipandang sebagai objek seksual, dan rasa hormat antara pria maupun wanita dalam konteks ini hampir tidak ada. Bahkan jika pun ada, kriteria yang menjadi dasarnya sebagian besar menyangkut atribut fisik yang bersifat lahiriah. Allah (SWT) berfirman,
This reflects the principle that the way that Muslim men and women view each other is completely different to the way of the West, where women are seen as sex objects, and respect of both men and women in this context is almost non-existent. Indeed, if it does exist at all, the criteria upon which it is based mainly concerns the superficial physical attributes. Allah (swt) says,.
"Dan orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (berbuat) yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah." [TMQ 9:71].
“And the believers, the men and women, are protecting friends of one another, they bid to honour and forbid dishonour, they perform the prayer, and they pay the alms, and they obey Allah and His Messenger. Upon them Allah will have mercy.” [TMQ 9:71].
Aspek ini dari Sistem Sosial Negara Islam akan mencegah eksploitasi perempuan dalam pornografi, atau penggunaan tubuh mereka sebagai daya tarik agar orang membeli produk. Selain itu, dalam media secara keseluruhan, baik di televisi, majalah, surat kabar maupun film, baik laki-laki maupun perempuan tidak akan ditampilkan dalam peran di mana mereka memperlihatkan aurat mereka, atau terlibat dalam aktivitas yang diharamkan dalam Islam.
This aspect of the Social System of the Islamic State will prevent exploitation of women in pornography, or the use of their bodies as an enticement for people to buy products. Additionally, in the media as a whole, whether on television, magazines, newspapers or films, neither men nor women will be portrayed in roles where they reveal their awrah, or involve in activities that are forbidden in Islam.
Dengan demikian, serbuan seksual dari media yang dihadapi masyarakat di Barat, dan gambaran yang terdistorsi tentang laki-laki dan perempuan yang ditanamkannya dalam benak, tidak akan ada di Negara Islam.
Thus the sexual bombardment from the media that is faced by people in the West, and the distorted image of men and women that this builds in the mind, will be absent in the Islamic State.