8.3.1 Laki-laki dan Perempuan dalam Islam
8.3.1 Men and Women in Islam
Islam mendefinisikan dengan sangat jelas peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan, dan memberikan petunjuk yang rinci tentang bagaimana mereka seharusnya berinteraksi satu sama lain di setiap bidang kehidupan. Definisi dan peran ini berasal dari Allah (SWT), Sang Pencipta manusia. Oleh karena itu, semuanya selaras sempurna dengan fitrah manusia, dan dalam Islam tidak ada celah bagi laki-laki maupun perempuan untuk dibiarkan menindas atau mendiskriminasi satu sama lain.
Islam defines very clearly exactly what are the roles of men and women in life, and gives detailed guidance as to how they should interact with each other in every sphere of life. These definitions and roles come from Allah (swt) the Creator of human beings. As a result they perfectly accord with human nature and there is no scope in Islam for either men or women to be left to oppress or discriminate against each other.
Umat manusia dipandang sebagai makhluk yang terdiri dari manusia, yang memiliki naluri yang sama, seperti naluri mempertahankan diri, naluri spiritual, dan naluri berkembang biak, serta kebutuhan organik seperti kebutuhan untuk makan, tidur, bernapas, dan sebagainya. Mereka memiliki semua itu tanpa memandang jenis kelamin. Dengan demikian, laki-laki dan perempuan sama-sama merupakan ciptaan Allah (SWT) dan dalam hal ini memiliki kedudukan yang sepenuhnya setara. Islam mendefinisikan tujuan hidup manusia semata-mata sebagai penghambaan kepada Allah (SWT).
Mankind is regarded as consisting of human beings, who have the same instincts, like the survival, spiritual or procreational instincts, and organic needs such as the need to eat, sleep, breathe etc. They share these regardless of their gender. As such, men and women are both creations of Allah (swt) and in this respect are absolutely equal in status. Islam defines the purpose of life for human beings as being purely a worship to Allah (swt).
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." [QS 51:56].
“I have not created jinn and human beings except as a worship unto me.” [TMQ 51:56].
Ibadah ini terpenuhi dengan hidup dalam ketaatan kepada perintah dan larangan Allah (SWT), dan sejauh mana seseorang telah melakukannya akan dihisab pada Hari Kiamat, untuk menentukan apakah ia akan memperoleh pahala surga atau azab neraka. Hal ini berlaku sama bagi laki-laki maupun perempuan, dan tidak ada yang lebih utama dari yang lain. Di sisi Allah (SWT), laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara. Allah (SWT) berfirman,
This worship is fulfilled by living in obedience to the commands and prohibitions of Allah (swt), and the extent to which a person has done this will be judged on the Day of Judgement, to determine whether they are to gain the reward of Paradise or the punishment of Hellfire. This applies equally to both men and women, with neither having any preference over the other. In the eyes of Allah (swt) men and women have equal status. Allah (swt) says,.
"Maka Tuhan mereka mengabulkan doa mereka dan menjawab mereka, 'Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.'" [TMQ 3:195].
“And their Lord has accepted of them and answered them, ‘never will I suffer to be lost the work of any of you be you male or female, you are members of one another.’” [TMQ 3:195].
Namun demikian, diakui bahwa Allah (swt) menciptakan laki-laki dan perempuan dengan fitrah (kodrat) yang berbeda, yang memberi mereka peran yang berbeda dalam kehidupan. Hal ini karena ada sifat-sifat tertentu yang khusus dimiliki oleh laki-laki atau perempuan, yang tidak dapat dimiliki oleh yang lain; misalnya, perempuan mengandung anak dan menyusuinya, sedangkan laki-laki lebih kuat secara fisik tetapi tidak mampu melakukan hal-hal tersebut. Salah satu dari banyak kekeliruan dalam sistem buatan manusia adalah bahwa 'kesetaraan' telah diartikan sama dengan 'keseragaman.' Akibatnya, perempuan dan laki-laki dipaksa untuk bersaing satu sama lain untuk memenuhi peran yang sama.
It is acknowledged however, that Allah (swt) created man and woman with a different fitrah (nature) which gives them different roles to play in life. This is because there are some attributes that are exclusive to men or women, that cannot be shared by the other; for example, women bear children and breast-feed them, but while men are physically stronger, they are unable to do these. One of the many errors found in the man-made system, is that ‘equality’ has taken the same meaning as ‘sameness.’ Thus, women and men are forced to compete with each other to fulfil the same roles.
Syariat Islam mencegah hal ini. Di beberapa bidang, yang tidak bersifat khusus gender, laki-laki dan perempuan mengikuti aturan yang sama, seperti dalam salat, sumpah, atau puasa, kecuali jika ada pengakuan atas perbedaan kodrat mereka; misalnya ketika haid, perempuan tidak salat, dan ketika hamil, perempuan tidak wajib berpuasa (meskipun hari-hari yang tertinggal tetap harus diganti kemudian). Namun di bidang lain, yang bersifat khusus gender, laki-laki dan perempuan memiliki peran dan aturan yang berbeda, misalnya keibuan atau kebapakan. Dengan demikian, alih-alih terjadi persaingan antara laki-laki dan perempuan, yang ada adalah keharmonisan dan ketenteraman.
The Shari‘ah of Islam prevents this. In some areas, which are not gender specific, men and women follow the same rules, as in the prayer, the giving of oaths or the fasting, except where there is an acknowledgement in the differences of their nature - so in times of menstruation, the woman does not pray, and when pregnant, the woman need not fast (although the missed days are made up later). But in others, which are gender specific, men and women have different roles to play and rules to follow, e.g. motherhood or fatherhood. Thus instead of competition between men and women, there is harmony and tranquillity.