5.5 Kebutuhan akan Para Rasul
5.5 The Need for Messengers
Manusia semuanya dianugerahi, meskipun dengan kadar yang berbeda-beda, naluri-naluri dan kebutuhan-kebutuhan jasmani yang mendorong mereka untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu. Misalnya, di antara naluri-naluri itu, naluri pengagungan (at-taqdis) membuat manusia memuliakan dan menyembah, naluri mempertahankan diri (al-baqa') mendorong mereka untuk berusaha menambah kekayaan dan menjaga keselamatan hidup mereka, dan naluri berkembang biak (an-nau') mendorong mereka untuk menjalin hubungan seksual dengan orang lain. Demikian pula, di antara kebutuhan-kebutuhan jasmani adalah kebutuhan untuk makan, minum, bernapas, dan lain sebagainya.
Human beings are all endowed, albeit to different extents, with instincts and organic needs, which drive them to perform certain actions. For example, of the instincts, the sanctification instinct causes people to revere and worship, the survival instinct causes them to seek to increase their wealth and secure their lives, and the procreational instinct urges them to have sexual relationships with others. Similarly, among the organic needs, are the need to eat, drink, breathe etc.
Semua naluri dan kebutuhan jasmani harus dipenuhi. Jika naluri tidak terpuaskan, hal itu akan menimbulkan kesengsaraan. Jika kebutuhan jasmani tidak terpenuhi, hal itu akan menyebabkan kematian. Namun, jika manusia dibiarkan mengurus dirinya sendiri, mereka menggunakan akal pikirannya untuk mengarahkan tindakan mereka dan dengan demikian dapat memenuhi naluri dan kebutuhan jasmani mereka persis sesuai keinginan mereka. Akan tetapi, kemampuan akal mereka terbatas, rentan terhadap kekeliruan, dan tunduk pada sifat mementingkan diri sendiri serta prasangka. Tanpa tuntunan, pemuasan naluri dan kebutuhan jasmani dapat dilakukan dengan cara yang merugikan orang lain. Misalnya, naluri untuk bertahan hidup dapat mendorong seseorang untuk berbuat curang dan mencuri dari orang lain demi memperoleh kekayaan yang lebih banyak. Naluri untuk berkembang biak dapat menjerumuskan orang pada perbuatan zina atau perzinahan. Ini hanyalah beberapa contoh, sedangkan ruang lingkup permasalahan hampir tidak terbatas.
All of the instincts and organic needs must be fulfilled. If the instincts are not satisfied it will lead to misery. If the organic needs are not fulfilled, it will lead to death. However, if human beings are left to their own devices, they use their own minds to direct their actions and can thus fulfil their instincts and organic needs exactly as they please. But their minds are limited in ability, prone to error and subject to selfishness and prejudice. Without guidance, the satisfaction of the instincts and organic needs may be carried out in a way that is harmful to others. For instance, the survival instinct may drive individuals to cheat and steal from others in order to gain more wealth. The procreation instinct may lead people into committing adultery or fornication. These are just a couple of examples, but the scope for problems is almost limitless.
Keadaan seperti ini adalah resep untuk bencana dan kerusakan total di muka bumi. Kecuali naluri manusia diatur oleh semacam pedoman, masyarakat akan terus dilanda kejahatan-kejahatan seperti yang kita saksikan di sekitar kita saat ini, seperti pelecehan anak secara ritual sebagai bentuk ibadah; kejahatan dan eksploitasi sebagai sarana untuk menambah kekayaan; atau homoseksualitas maupun pemerkosaan sebagai sarana untuk memenuhi dorongan seksual, dan sebagainya.
Such a state of affairs is a recipe for disaster and complete corruption on the earth. Unless the instincts of people are regulated by some kind of guidelines, the society will continue to be plagued by evils of the like we see around us today, such as ritual child abuse as a type of worship; crime and exploitation as a mean of increasing wealth; or homosexuality or rape as a means of fulfilling the sexual urge etc.
Tanpa petunjuk dari Sang Pencipta, manusia tidak punya pilihan lain selain terjerumus ke dalam kesulitan ini. Jelas, maka, dibutuhkan adanya petunjuk seperti itu, yang datang sebagai jalan keluar bagi seluruh manusia, dan karenanya dibutuhkan pula para rasul, yang menyampaikan petunjuk ini dari Sang Pencipta kepada umat manusia.
Without guidance from the Creator, mankind has no option but to fall into this predicament. Clearly then, there is a need for such guidance, to come as a way out for all the people, and thereby a need for messengers, to convey this guidance to mankind from the creator.
Sesungguhnya, para rasul telah diutus kepada umat manusia sejak awal sejarah manusia, membawa petunjuk ini dan menyeru manusia untuk mengenali hakikat keberadaan mereka serta memahami realitas dan tujuan hidup mereka. Allah (SWT) berfirman,
Indeed, messengers have been sent to mankind since the beginning of human history, carrying this guidance and imploring people to recognise the nature of their existence and to understand the reality and purpose of their lives. Allah (swt) says,.
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut.’” [TMQ 16:36].
“And verily We have sent among every nation a Messenger (proclaiming) ‘Worship Allah alone, and avoid evil.’” [TMQ 16:36].
Rasul yang terakhir dari para rasul tersebut adalah Nabi Muhammad ﷺ, dan dengan petunjuknya, datanglah penjelasan bukan hanya tentang kebenaran keberadaan ini, tetapi juga tentang tata cara berperilaku bagi umat manusia untuk meraih keadilan dan kemakmuran, baik di kehidupan ini maupun di kehidupan akhirat.
The last of these messengers was Prophet Muhammad (saw) and with his guidance, came the clarification of not only the truth of this existence, but also the code of conduct for humanity to achieve justice and prosperity in both this life and the next.