15 Lagu Kebangsaan Negara Khilafah
15 The Anthem of the Khilafah State
Mengadopsi slogan/lagu kebangsaan yang dapat dielu-elukan untuk membedakan kelompok tertentu dari yang lain, atau negara tertentu dari negara lain, termasuk perkara yang diperbolehkan. Kaum Muslimin pada masa lalu memiliki slogan yang mereka gunakan ketika bertemu musuh di medan perang. Hal ini digunakan pada masa Rasulullah ﷺ dan dengan persetujuan beliau ﷺ. Mereka mengambil slogan (Ha Mim, mereka tidak akan ditolong) dalam perang Khandaq dan Quraizhah, dan slogan (Kalian yang ditolong, bunuhlah, bunuhlah) dalam perang Bani Al-Mustaliq, dan seterusnya.
Adopting a slogan/anthem that can be acclaimed to distinguish a certain group of people from others, or a certain state from others is one of the permissible matters. The Muslims in the past had a slogan which they used when they met their enemies on the battle field. This was used at the time of the Messenger of Allah (PBUH) and by his agreement. They took the slogan of (Ha Mim, they are not helped) in the battle of the trench and Qurayzah, and the slogan of (You, the helped, bring death, bring death) in Banu Al-Mustaliq, and so on. .
Selain nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah (S.W.T) kepada manusia berupa sifat-sifat yang diciptakan pada dirinya, seperti pendengaran, penglihatan, dan kemampuan berbicara, semua ini termasuk dalil-dalil ibahah. Maka, manusia boleh melihat, berbicara, dan bertepuk tangan atas apa pun yang ia kehendaki, kecuali jika ada dalil khusus yang berkaitan dengan salah satunya, yang wajib ia patuhi.
This is besides the favours bestowed by Allah (S.W.T) upon man of the characteristics created in him such as hearing, sight and speaking, all of these are included in the evidences of ibaha. So, man sees, speaks and applauds whatever he wants unless there is specific evidence related to any of them, which then he must observe. .
Oleh karena itu, dibolehkan bagi Negara Islam untuk mengadopsi sebuah slogan yang dengannya ia memberi penghormatan dan yang dengannya ia membedakan dirinya dari negara-negara lain, di mana ia menggunakannya dalam hubungannya dengan negara-negara lain, dan ia menyertai Khalifah dalam kunjungannya kepada kepala-kepala negara lain atau selama kunjungan mereka kepada beliau. Slogan itu juga dapat digunakan oleh masyarakat pada acara-acara mereka, di mana mereka memberi penghormatan dengannya dalam pertemuan-pertemuan mereka, perkumpulan-perkumpulan umum, sekolah-sekolah, dan siaran-siaran, serta yang semacam itu.
Therefore, it is allowed for the Islamic State to adopt a slogan with which it applauds and by which it distinguishes itself from other states, where it uses it in its relations with other states, and it accompanies the Khalifah in his visits to other heads of states or during their visits to him. It can also be used by the public in their occasions, where they applaud with it in their assemblies, public gatherings, schools and broadcasts, and the like. .
Mengenai cara memuji, yaitu tinggi rendahnya suara, melagukan atau tidak, berbicara dengan atau tanpa suara sengau dan sebagainya, semua ini diperbolehkan, karena kaum Muslimin dahulu melantunkan syair-syair mereka dengan suara yang membangkitkan semangat, sesuai dengan suasana acara yang sedang mereka puji.
In regards to the method of applauding, i.e. the intensity of the voice, the lowering, or speaking with or without a nasal sound etc, all of this is allowed, because the Muslims used to declaim their poems with an exciting voice in accordance with the occasion they were applauding. .
Negara telah menetapkan bahwa negara harus memiliki sebuah lagu kebangsaan, yang digunakan ketika diperlukan, dan lagu tersebut mengiringi Khalifah dalam pertemuan-pertemuan resminya dengan kepala negara lain. Selain itu, Ummah juga akan menggunakannya pada momen-momen tertentu. Berikut ini telah ditetapkan untuk lagu kebangsaan Khilafah Rasyidah kedua setelah berdirinya dengan izin Allah (SWT): 1-Lagu tersebut harus menyebutkan terpenuhinya kabar gembira dari Rasulullah ﷺ mengenai kembalinya Khilafah Rasyidah kedua, dan bangkitnya kembali panji Uqab, panji Rasulullah ﷺ.
The state has adopted that it should have an anthem, which it uses when necessary, and it accompanies the Khalifah in his official meetings with the heads of states. Additionally the Ummah would use it on certain occasions. The following has been noted for the anthem of the second rightly guided Khilafah after its establishment by the permission of Allah (S.W.T): 1-It should mention the fulfilment of the glad tidings of the Messenger of Allah (PBUH) regarding the return of the second guided Khilafah, and the rise again of the banner of the Uqab, the banner of the Messenger of Allah (PBUH). .
2. Hal ini disebutkan dalam kabar gembira dari Rasulullah ﷺ bahwa ketika Khilafah telah tegak, bumi akan mengeluarkan harta karunnya, langit akan menurunkan keberkahannya, dan bumi akan dipenuhi keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman.
2-It should mention the glad tidings of the Messenger of Allah ( PBUH) when the Khilafah is established and the earth will bring out its treasures and the heaven will send down its blessings, and the earth will be filled with justice after being filled with tyranny. .
3. Hal itu harus mencakup penaklukan dan penyebaran kebaikan di seluruh wilayah dunia dengan Khilafah yang memerintah atas semuanya, khususnya negeri-negeri tiga masjid yang menjadi tujuan perjalanan: al-Masjid al-Haram, masjid Nabi ﷺ, dan al-Masjid al-Aqsa, setelah memberantas entitas Yahudi.
3-It should mention the conquests and spreading of goodness in all of the worlds regions with the Khilafah ruling over all, particularly the lands of the three mosques to which journeys are made: al-Masjid ul Haram, the prophetic masjid, and al-Masjid ul-Aqsa after uprooting the entity of the Jews. .
4- Hal ini akan disimpulkan dengan kembalinya Umat sebagaimana yang Allah kehendaki: Umat terbaik yang dihadirkan bagi umat manusia, yang tujuan utamanya adalah meraih keridaan Allah (SWT), Yang akan memuliakannya dengan karunia, rahmat-Nya, dan Surga Firdaus yang tinggi.
4-It would be concluded by the return of the Ummah as Allah wanted her to be: The best Ummah brought to mankind, where its main goal is to attain the good pleasure of Allah (S.W.T), Who would honour her with His favour, Mercy and the High Garden of Al-Firdaws. .
Takbir harus diulang-ulang di dalamnya. Hal ini karena takbir memiliki pengaruh yang istimewa dalam Islam dan dalam kehidupan seorang Muslim. Takbirlah yang bergema pada kemenangan-kemenangan mereka, pada hari-hari raya mereka, terucap di lisan mereka, dan disebut pada setiap momen yang berpengaruh.
5-Takbeer has to be repeated in it. This is because takbeer has a special impact in Islam and in a Muslim’s life. It is takbeer that reiterates in their victories, and in their holidays, and on their tongues and is mentioned on every effective occasion. .
Berdasarkan poin-poin yang telah disebutkan, lampiran buku ini akan memuat himne yang dimaksud beserta metodenya; ia akan diumumkan pada waktu yang tepat dengan kehendak Allah (S.W.T).
In light of the mentioned points, the appendix of this book will contain the targeted anthem and its method; it will be announced at the right time by the will of Allah (S.W.T),
Doa terakhir kami adalah memuji Allah, Tuhan semesta alam.
Our last prayer is to celebrate the praise of Allah, the Lord of the worlds.