25.4 Kebijakan Perdagangan Luar Negeri
25.4 Foreign Trade Policy
Perdagangan luar negeri adalah hubungan Negara dengan negara-negara, bangsa-bangsa, dan umat-umat lain dari sudut pandang perdagangan. Dengan kata lain, ini adalah pengelolaan urusan perdagangan Ummah dari sudut pandang luar negeri. Kebijakan ini harus didasarkan pada landasan-landasan tertentu, dan harus dipatuhi. Pandangan bangsa-bangsa tentang perdagangan luar negeri berbeda-beda sesuai dengan berbagai pandangan yang mereka pegang tentang kehidupan, sehingga setiap bangsa akan menentukan hubungannya dengan bangsa-bangsa asing sesuai dengan itu. Pandangan suatu bangsa tentang perdagangan luar negeri juga akan berbeda-beda sesuai dengan pandangannya tentang kepentingan ekonominya sendiri, yang bertujuan untuk mencapai keuntungan ekonomi.
Foreign trade is the relationship of the State with other states, peoples and nations from a commercial angle. In other words, it is the management of the Ummah’s commercial affairs from a foreign angle. This policy should be based on specific fundamentals, and it should adhere to. The nations’ viewpoints about foreign trade vary according to the various viewpoints they hold about life, and each nation would therefore determine her relationships with foreign nations accordingly. A nation’s viewpoint about foreign trade would also vary according to her viewpoint about her own economic interests, aimed at achieving economic gain.
Maka perlu dicatat bahwa bagi kaum Sosialis, hubungan perdagangan luar negeri didasarkan pada pandangan Sosialis mereka tentang pembangunan dunia. Sebab, meskipun mereka memperhatikan keuntungan ekonomi, mereka mengelompokkan komoditas menurut negara-negara yang mereka ajak berdagang. Misalnya, mereka akan berupaya menjual ke Suriah peralatan pertanian, pupuk, obat-obatan, peralatan industri untuk pembuatan barang konsumsi seperti keju dan pakaian, serta peralatan membajak dan sejenisnya. Menurut pandangan mereka, hal ini akan membantu kemajuan menuju kapitalisme. Jika mereka mengimpor suatu komoditas, mereka hanya akan mengimpor yang dapat meningkatkan produksi dan yang mereka butuhkan, meskipun praktik ini saat ini semakin berkurang. Hal ini sebenarnya berbeda dengan kebijakan negara-negara kapitalis, seperti Inggris misalnya, yang selalu mencari keuntungan materi, dengan menempatkan konsep kemanfaatan sebagai inti kebijakan perdagangan luar negerinya. Ia akan menjual komoditas kepada semua bangsa dan negara selama hal itu mencapai keuntungan ekonomi. Adapun kebijakan Amerika yang membatasi perdagangan dengan Rusia dan Cina hanya pada jenis-jenis komoditas tertentu serta melarang total jenis-jenis lainnya, hal ini tidak berkaitan dengan pandangan ideologi, melainkan dengan kebijakan perangnya. Hal ini karena ia menganggap kedua negara tersebut sebagai negara yang berpotensi bermusuhan, meskipun pada kenyataannya keduanya tidak secara efektif sedang berperang dengannya. Selain itu, kebijakan perdagangan Amerika didasarkan pada kemanfaatan.
We note therefore, that to the Socialists, the foreign trade relation is based on their Socialist viewpoint about developing the world. For, although they observe economic gains, they classify the commodities according to the countries they deal with. They would attempt to sell to Syria for instance, farming equipment, fertiliser, medicines, industrial equipment for manufacturing of consumable goods, such as cheese and clothing, as well as ploughing equipment and the like. This, in their view, would help the progress towards capitalism. If they imported any commodities, they would only import that which improves the production, and that which they need, although this practice is at present, diminishing. This in fact is in contrast to the policies of the capitalist countries, such as Britain for instance, who always looks for material gain, placing the concept of expediency at the heart of her foreign trade policy. She would sell commodities to all peoples and nations as long as it achieves economic gain. As for the American policy of restricting trading with Russia and China to specific types of commodities and of a total ban on other types, this is not related to the viewpoint, rather to her war policy. This is because she considers these two countries potentially belligerent states, even though they are not effectively at war with her. Apart from this, the American trade policy is based on expediency.
Namun, para ekonom Barat memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai perdagangan luar negeri, dan akibatnya muncullah berbagai aliran pemikiran, di antaranya sebagai berikut: (cek artikel berikutnya)
However, western economists have held different viewpoints about foreign trade and as a result, various schools of thought have emerged, some of these are the following: (check next article)