4 Gagasan tentang Peradaban Alternatif
4 The Idea of the Alternative Civilisation
Yang lebih menyedihkan lagi adalah pernyataan mereka bahwa tujuan dialog antarperadaban adalah interaksi untuk menciptakan peradaban alternatif yang lebih unggul melalui cara mencari apa yang menjadi persamaan di antara peradaban-peradaban tersebut. Hal ini pada gilirannya mengarah pada kemajuan, kemakmuran, dan tersebarnya perdamaian. Betapa buruknya penyimpulan konsep ini oleh seseorang yang menggunakan sabda beliau ﷺ.
What caps the matter is their saying that the objective of dialogue between civilizations is interaction to create an alternative superior civilization through the method of seeking to find what is common between the civilizations. This, in turn, leads to progress, flourishing, and spreading peace. How bad is the deduction of this concept by someone using His ﷺ saying.
"Katakanlah: 'Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan tidak (pula) menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah.'" [QS. Ali 'Imran: 64]. Maka ia berkata: "Ini adalah dialog dengan pihak lain dari posisi yang setara." Kemudian ia menafsirkan firman-Nya ﷺ: "Kepada suatu kalimat yang adil" menjadi kata "bersama (mushtarake) di antara kita" dan "kita tidak mengatakan bahwa kita berdialog untuk (mencapai) kalimat kita." Pemahaman terhadap ayat ini adalah tuduhan dusta terhadap Allah, karena makna "sawa'" adalah adil ('adl), yakni kalimat yang adil, yang kemudian dijelaskan oleh ayat tersebut. Tidak ada dalam ayat ini, baik lafal maupun maknanya, yang menunjukkan bahwa kita mengajak mereka kepada kalimat bersama. Ia sama sekali tidak bermaksud agar kita berserikat dalam kalimat yang adil, dengan bukti ucapannya: "Kita tidak mengatakan bahwa kita berdialog untuk kalimat kita," sehingga tidak tersisa kecuali bahwa kita menginginkan peradaban bersama. Seruan untuk berinteraksi dan mencari apa yang sama antara peradaban-peradaban adalah mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan; Allah melarang Ahli Kitab dari hal ini, dan begitu pula kaum Muslimin, dan lebih utama lagi. Allah SWT berfirman:
"Say: 'O People of the Book. Come to a just word between us. That we worship none but Allah nor associate anything with Him nor some of us taking each other as lords.'" [TMQ Al-Imran: 64]. So he says: "This is a dialogue with others from a position of equality." Then he interprets His ﷺ saying: "To a just word" into the word "common (mushtarake) between us" and "we do not say we dialogue to (reach) to our word." This understanding of the ayah is slandering upon Allah, as the meaning of 'sawa' is just ('adl'), i.e., a just word which the ayah explains subsequently. There is nothing in the ayah, whether in its wording or its meaning, that indicates we invite them to a common word. He definitely did not intend that we associate in a just word by the evidence of his saying: "We do not say that we dialogue to our word" so nothing remains except that we want the common civilization. The call to interaction and seeking to find what is common between the civilizations is mixing the truth with falsehood; Allah prohibited the People of the Book from this, and also Muslims by greater reason. He (SWTH) ta'ala said:
"Wahai Ahli Kitab, mengapa kalian mencampuradukkan yang haq dengan yang batil, sedangkan kalian mengetahui?" [TMQ Al-Imran: 71]
"O People of the Book, why do you mix the truth with falsehood while you know?" [TMQ Al-Imran: 71]
Setelah kita menjelaskan maksud mereka dari dialog antaragama dan dialog antarperadaban, serta tujuan mereka dari hal tersebut, kini kita beralih pada persoalan benturan dalam berbagai jenisnya: ekonomi, intelektual, militer, dan politik.
After we have clarified their intention from the dialogue between religions and dialogue between civilizations, and their objective from this, we now move onto the issue of clash in its various types, economic, intellectual, military and political.