The user's message is only a page reference, "Concepts of Hizb ut-Tahrir: Page 71 – 76", with no body text to translate. Per the instructions, I translate what is given, so I'll translate this line as it stands: Konsep-Konsep Hizb ut-Tahrir: Halaman 71 – 76
Concepts of Hizb ut-Tahrir: Page 71 – 76
Adalah hal yang sangat penting bahwa kelompok partai tidak menganggap dirinya sebagai entitas yang terpisah dari Ummah tempat ia hidup. Sebaliknya, kelompok itu harus menganggap dirinya bagian dari Ummah ini, karena Ummah adalah kaum Muslimin sebagaimana para anggota kelompok tersebut. Para anggota kelompok partai tidak lebih baik daripada kaum Muslimin mana pun, meskipun mereka memahami Islam dan berjuang untuknya. Para anggota kelompok memikul tanggung jawab yang lebih berat dan akuntabilitas yang lebih besar di sisi Allah dalam melayani kaum Muslimin dan berjuang untuk Islam. Anggota kelompok Islam harus menyadari bahwa mereka tidak berarti apa-apa, berapa pun besarnya kelompok itu, tanpa Ummah tempat mereka bekerja. Oleh karena itu, tugas mereka adalah berinteraksi dengan Ummah dan melangkah bersamanya dalam perjuangan, dengan memastikan bahwa Ummah merasa dialah yang sedang berjuang. Blok (partai) harus menjauhi setiap tindakan, ucapan, atau pernyataan, sekecil apa pun ukurannya, yang mengesankan bahwa blok itu terpisah dan berbeda dari Ummah. Sebab hal itu menjauhkan Ummah dari partai dan dakwahnya, serta menjadikan blok itu sebagai masalah tambahan di antara sekian banyak masalah dalam masyarakat yang menghalangi kebangkitannya. Maka Ummah adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, dan blok partai bangkit untuk mendirikan negara serta menjadi penjaga Islam di tengah Ummah dan di dalam negara, memastikan bahwa tidak ada penyimpangan yang terjadi. Jika ia mendapati penyimpangan apa pun di tengah Ummah, ia akan menanamkan kepada Ummah keimanannya dan kecerdasannya. Jika ia mendapati penyimpangan dalam negara, ia akan bekerja bersama Ummah untuk memperbaikinya sesuai dengan Islam. Dengan demikian, dakwah yang diemban kelompok ini akan berhasil berjalan di jalur alaminya dengan keunggulan.
It is vital that the party bloc does not consider itself as an entity separate from the Ummah it lives with. Rather it must consider itself a part of this Ummah, because the Ummah are Muslims like the members of the bloc. The members of the party bloc are not better than any of the Muslims, even if they understand Islam and work for it. The members of the bloc have a heavier responsibility and greater accountability in serving the Muslims and working for Islam in the sight of Allah. The members of the Islamic group should know they are worthless regardless of the size of the group without the Ummah, which they work amongst. Consequently their duty is to interact with the Ummah and to proceed with her in the struggle, ensuring that the Ummah should feel that she is the one who is working for the struggle. The bloc (party) has to stay away from any action, word or remark, regardless of its size, that would imply that the block is separate and distinct from the Ummah. This is because this alienates the Ummah from the party and its da’wah, and makes the block a problem added to the host of problems in the society which prevents its revival. So the Ummah is an indivisible single entity and the party bloc rises to establish the state and to be the guardian for Islam in the Ummah and in the state, ensuring that no deviation can take place. If it notices any of that in the Ummah, it will instil in the Ummah her iman and her ingenuity. If it notices any deviation in the state then it will work together with the Ummah to rectify it according to Islam. Thus, the Da’wah carried by the group will successfully proceed along its natural path with excellence.
Tujuan kelompok ini adalah mengembalikan kehidupan Islam di negeri-negeri Islam, dan menyebarluaskan dakwah Islam ke seluruh dunia. Metodenya untuk mencapai tujuan ini adalah melalui pemerintahan (penguasaan negara). Metodenya untuk meraih pemerintahan adalah melalui pengkajian dan pemahaman terhadap Islam serta membina masyarakat dengannya dengan cara yang menghasilkan pengaruh dalam membangun pola pikir Islami (‘aqliyyah) dan kejiwaan Islami (nafsiyyah), sehingga terbentuk kepribadian Islami (syakhshiyyah). Kelompok ini juga berinteraksi dengan umat dengan membuat mereka memahami Islam dan menyadari kepentingan mereka yang sebenarnya, serta menunjukkan bahwa Islam mengatur kepentingan-kepentingan tersebut dan menjamin tercapainya kepentingan itu bersama dengan kepentingan kaum Muslimin. Interaksi dan perjuangan dalam jalan dakwah ini harus berjalan bersamaan dengan pengkajian Islam. Aktivitas kelompok ini bersifat politik; oleh karena itu, penampilan utama kelompok ini harus bersifat politik, karena itulah cara praktis pertama tempat dakwah Islam ini dimulai. Namun, hal ini tidak berarti dakwah hanya untuk politik atau hanya untuk pemerintahan. Yang dimaksud adalah dakwah kepada Islam dan perjuangan politik untuk meraih kekuasaan guna mendirikan negara yang akan menerapkan Islam dan menyebarkan dakwahnya. Kelompok yang membawa dakwah Islam harus bersifat politik. Kelompok ini tidak boleh bersifat kerohanian, moralistik, akademis, keilmuan, pendidikan, atau semacamnya.
The objective of the group should be to resume the Islamic way of life in the Islamic Lands, and to carry the Islamic da’wah to the world. Its method to achieve this objective is through ruling (government). Its method to attain the ruling is through the study and comprehension of Islam and culturing people with it in a way producing the effect in the building of the Islamic mentality (‘aqliyyah) and the Islamic disposition (nafsiyyah), so as to form the Islamic personality (shakhsiyyah). It also interacts with the Ummah by making her understand Islam and realising her true interests and showing that Islam addresses these interests and secures their achievement together with adopting the interests of the Muslims. This interaction and struggle in the way of the da’wah should proceed simultaneously with the study of Islam. These actions of the party bloc are political; therefore it is necessary that the prominent appearance of this block be political, for it is the first practical way in which that da’wah for Islam starts. However, this does not mean da’wah is for politics alone or for ruling alone. Rather it means da’wah to Islam and the political struggle to gain the authority so as to establish the state, which will implement Islam and carry its da’wah. The bloc that carries the Islamic da’wah should be political. It should not be spiritual, moralistic, academic, scholarly, educational or any of these.
Hizb ut-Tahrir adalah sebuah Hizb yang berlandaskan Islam dan merupakan Hizb politik yang menangani urusan politik, serta berupaya membina Ummah dengan budaya Islam yang di dalamnya aspek politik tampak dengan menonjol. Hizb ini mengecam apa yang dilakukan oleh para penjajah dan antek-antek mereka, yaitu dengan mencegah para pelajar dan karyawan dari berkiprah dalam politik serta berupaya menjauhkan masyarakat luas darinya. Hizb memandang perlunya masyarakat luas mengetahui politik dan perlunya budaya politik dipelihara di tengah mereka. Aktivitas politik bukanlah berarti menunjukkan bahwa Islam mencakup politik atau bahwa prinsip-prinsip politik dalam Islam adalah begini dan begitu. Politik berarti mengurus urusan seluruh Ummah, baik dalam negeri maupun luar negeri, dan urusan tersebut hendaknya dijalankan semata-mata berdasarkan Islam. Hal ini harus dilakukan oleh negara dan oleh Ummah dalam tanggung jawabnya untuk meminta pertanggungjawaban negara. Untuk mewujudkan hal ini secara praktis, Hizb harus memikul tanggung jawab tersebut terhadap Ummah dan kekuasaan. Hizb ut-Tahrir menyampaikan Da'wah kepada Islam secara menyeluruh dan membina Ummah dengan Ahkam Syar'iyah yang menjawab permasalahan kehidupan sehari-hari. Hizb berupaya untuk memerintah dengan Islam dan berjuang melawan penjajah kafir untuk mencabut pengaruh mereka. Hizb juga berjuang melawan antek-antek penjajahan, baik mereka yang mengadopsi kepemimpinan intelektual dan ide-idenya maupun mereka yang melaksanakan kebijakan dan pemikirannya.
Hizb ut-Tahrir, is a Hizb based on Islam and a political Hizb that deals with politics, and works to culture the Ummah with the Islamic culture in which the political aspect is prominently manifested. The Hizb condemns what the colonialists and their agents are doing by preventing students and employees from engaging in politics and attempting to distance the masses from it as well. The Hizb views the necessity that the masses know politics and that the political culture should be maintained in them. Political activity does not mean showing that Islam includes politics or the political principles in Islam are such and such. Politics means taking care of the affairs of the whole Ummah internally and externally and that these affairs be conducted on the basis of Islam alone. This should be done by the state and by the Ummah in her responsibility of accounting the state. To achieve this practically, the Hizb must undertake such responsibility in regards to the Ummah and ruling. Hizb ut-Tahrir carries the Da’wah to Islam comprehensively and cultures the Ummah with the AHkam Shar’aiah that address the problems of daily life. The Hizb works in order to govern by Islam and strives against the Kafir colonialists to uproot their influence. It also struggles against the agents of colonialism, whether those who adopt its intellectual leadership and ideas or those who implement its policy and thoughts.
Dakwah Islam dan perjuangan politik untuk membela kepentingannya hanya dapat dilakukan di tengah masyarakat yang telah ditetapkan oleh partai sebagai wilayah aktivitasnya (majal). Hizb ut-Tahrir memandang seluruh masyarakat di negeri-negeri Islam sebagai satu masyarakat, karena seluruh perjuangannya bertumpu pada satu perkara, yaitu Islam. Meski demikian, partai ini menjadikan negeri-negeri Arab yang merupakan bagian dari Negeri-Negeri Islam sebagai titik tolak. Partai ini memandang bahwa pendirian Negara Islam di negara-negara Arab sebagai inti bagi Negara Islam merupakan langkah yang wajar.
Carrying the Islamic da’wah and the political struggle for its cause can be undertaken only in the society which the party has defined as its area for activity (majal). Hizb ut- Tahrir considers the society in all the Islamic lands to be one society because its entire cause lies in one case, Islam. However it takes the Arab lands that are a part of the Islamic Lands as a starting point. It considers the establishment of an Islamic state in the Arab countries as a nucleus for the Islamic state as a natural step.
Masyarakat di dunia Islam telah mengalami kemunduran secara politik, dan sebagian besar wilayahnya dijajah oleh negara-negara Barat. Dunia Islam masih didominasi oleh mereka, meskipun sebagian wilayah dunia Islam tampak menikmati otonomi. Dunia Islam sepenuhnya tunduk pada kepemimpinan intelektual yang demokratis dan kapitalis. Dalam bidang pemerintahan dan politik, ia diatur oleh sistem demokrasi; dalam bidang ekonomi, oleh kapitalisme; dan dalam bidang militer, ia terbelenggu oleh pihak asing, baik dalam persenjataan, pelatihan tentara-tentara Muslim, maupun berbagai seni peperangan militer. Dalam urusan luar negeri, dunia Islam mengikuti Barat yang mendominasinya. Kita dapat mengatakan bahwa negara-negara Islam masih dijajah dan kolonialisme masih berakar kuat di dalamnya. Hal ini karena kolonialisme adalah pemaksaan kekuasaan militer, politik, ekonomi, dan budaya atas bangsa-bangsa yang lemah untuk mengeksploitasi mereka. Kolonialisme mengerahkan segala kekuatannya untuk memaksakan kepemimpinan intelektualnya dan memantapkan pandangan hidupnya. Bentuk-bentuk kolonialisme yang berbeda mencakup penguasaan negara-negara jajahan dan pendirian koloni, serta pembentukan pemerintahan yang secara nominal merdeka namun secara praktis tunduk pada negara-negara kolonialis. Inilah keadaan negara-negara Islam saat ini, yang seluruhnya tunduk pada hegemoni Barat, dan mereka berjalan secara budaya sesuai dengan program dan gagasan kolonialis Barat. Meskipun tunduk pada dominasi kolonialisme Barat, mereka sekaligus menjadi sasaran Uni Soviet, yang dahulu bekerja di negara-negara Islam melalui para agennya untuk membuat masyarakat menganut Komunisme, serta untuk mendominasi mereka dengan kepemimpinan intelektual dan pandangan hidupnya, dengan menyerukan ideologi Komunis.
The society in the Islamic world has politically declined and most of it was occupied by the Western States. It is still dominated by them despite the apparent autonomy enjoyed by some areas of the Islamic World. It has been subjugated completely to the democratic capitalist intellectual leadership. In government and politics it is ruled by the system of democracy, in economics by capitalism and in the military field it is shackled by the foreigners, in its weapons, the training of the Muslim armies and the various military arts of war. In external affairs the Islamic world follows the West who dominates it. We can say that the Islamic countries are still colonised and that colonialism is still entrenched in them. This is because colonialism is the imposition of military, political, economical, and cultural power on the weak peoples to exploit them. Colonialism deploys all its forces to impose its intellectual leadership and to consolidate its viewpoint of life. The different forms of colonialism include annexing the colonised countries and establishing colonies, establishing governments that are nominally independent yet practically subject to the colonialist states. This is the current situation in the Islamic countries which are all subject to Western hegemony and they proceed culturally according to the Western colonialist programmes and ideas. Despite their subjugation to the domination of Western colonialism they were at the same time a target for the former Soviet Union, which used to work in the Islamic countries through its agents to make people embrace Communism, and for the domination of its intellectual leadership and its viewpoint of life, by calling to the Communist ideology.
Negara-negara Islam dijajah oleh negara-negara Barat, dan menjadi lahan bagi kepemimpinan intelektual asing. Negara-negara tersebut juga menjadi sasaran Uni Soviet dahulu dan tujuan invasi serta pendudukannya. Hal ini dilakukan bukan untuk menjajah mereka, melainkan untuk mengubah mereka menjadi negara-negara komunis dan mengubah seluruh masyarakat dari masyarakat Islam menjadi masyarakat komunis, di mana segala tanda Islam akan dihapuskan. Namun, dengan runtuhnya Uni Soviet, semua itu lenyap, meskipun ada sebagian orang yang bergabung dengan partai-partai komunis di negara-negara Islam, tetapi tanpa memberikan pengaruh apa pun. Sangat penting untuk melakukan perjuangan politik dalam melawan penjajahan masa kini serta melawan kepemimpinan intelektual asing. Kita juga harus berupaya melindungi tanah kita dari invasi asing yang menargetkannya. Menjalankan dakwah Islam dengan cara yang benar akan membentengi dari bahaya kepemimpinan intelektual asing. Perjuangan melawan penjajahan Barat seharusnya menjadi landasan dalam perjuangan politik.
The Islamic countries are colonised by the Western states, and are a platform for the foreign intellectual leaderships. They were also the target of the former Soviet Union and an aim for its invasion and occupation of them. This was done not to colonise them but rather transform them into communist countries and to change the whole society from an Islamic society to a communist society where all signs of Islam would be removed. However through the downfall of the former Soviet Union, all this disappeared, though there are some who join the communist parties in the Islamic countries but without having any effect. It is essential that political work be undertaken in the struggle against the current colonialism and fight against the foreign intellectual leaderships. We should also work to protect our lands from the foreign invasion which targets them. Carrying the Islamic da’wah in the correct manner will withstand the danger of the foreign intellectual leaderships. The struggle against Western colonisation should be the cornerstone in the political struggle.
Perjuangan politik menuntut kita untuk tidak meminta bantuan dari orang asing, apa pun kewarganegaraannya dan apa pun bentuk bantuan tersebut. Setiap bantuan politik dari orang asing mana pun dan setiap promosi untuknya dianggap sebagai pengkhianatan terhadap umat. Perjuangan politik juga mewajibkan kita untuk bekerja membangun struktur internal dunia Islam secara benar agar Negara Islam menjadi kekuatan terdepan dengan struktur yang khas dan masyarakat yang luhur. Kekuatan ini akan berupaya merebut kepemimpinan dari kedua kubu guna mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia dan mempertahankan inisiatif. Perjuangan politik berarti kita juga harus berdiri menentang sistem, kaidah dan hukum Barat serta segala bentuk kolonialisme. Kita harus menolak semua proyek Barat, khususnya proyek Inggris dan Amerika, baik yang bersifat teknis, finansial, politik maupun dalam bentuk apa pun. Hal ini juga mengharuskan penolakan total terhadap peradaban Barat, tanpa menolak benda-benda material, karena madaniyya (benda-benda material) dapat diambil, sebab ia merupakan produk ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi. Yang diperlukan adalah menghapus kepemimpinan intelektual asing dan menolak budaya asing yang bertentangan dengan pandangan Islam. Hal ini tidak mencakup gagasan-gagasan ilmiah, karena gagasan tersebut bersifat universal, yang harus diambil dari negara mana pun karena termasuk unsur paling penting bagi kemajuan material dalam urusan kehidupan.
Political struggle requires that we do not seek help from the foreigner regardless of their nationality and regardless of the form this assistance may take. Any political assistance from any foreigner and any promotion for him is considered a betrayal of the Ummah. Political struggle also obliges us to work to build the internal structure of the Islamic world in a sound manner so that the Islamic State becomes the leading power with its distinct structure and sublime society. This power will work to take the leadership from both camps in order to carry the Islamic da’wah to the entire world and to maintain its initiative. Political struggle means we must also stand against the systems, canons and laws of the West and all forms of colonialism. We must reject all Western projects, particularly those of the British and Americans, whether they are technical, financial, political or in any form. It also necessitates the total rejection of Western civilisation, without rejecting material objects, since the madaniyya (material objects) can be taken, for they are the product of science and technological development. It requires is to remove the foreign intellectual leadership and reject the foreign culture, which contradicts the Islamic viewpoint. This does not include scientific ideas, because they are universal, which must be taken from any country because they are of the most important elements for material progression in life’s affairs.
Perjuangan politik berarti kita harus menyadari bahwa kaum kolonialis Barat, terutama Inggris dan Amerika, bekerja di setiap negeri jajahan untuk membantu agen-agen mereka, termasuk mereka yang pasif, mereka yang ingin hidup dalam kegelapan, mereka yang menganjurkan kebijakan kolonialis dan kepemimpinan intelektual mereka, di samping kelas penguasa. Para kolonialis ini akan melakukan apa saja untuk memberikan bantuan kepada agen-agen mereka di berbagai wilayah guna menghalangi gerakan pembebasan Islam ini. Barat akan memberikan dana kepada agen-agen tersebut serta segala bantuan dan kekuatan yang mereka butuhkan untuk menghancurkan gerakan ini. Misalnya, para kolonialis dan agen-agen mereka akan melancarkan kampanye fitnah terhadap gerakan pembebasan Islam ini dengan membuat tuduhan palsu, seperti: gerakan ini diperalat oleh kaum kolonialis, gerakan ini menghasut perselisihan internal, atau berupaya memprovokasi dunia melawan kaum Muslimin, atau gagasannya bertentangan dengan Islam, dan sebagainya. Mereka yang terlibat dalam perjuangan ini harus menyadari kebijakan kaum kolonialis serta rencana dan gaya mereka, agar dapat membongkar rencana kolonialis di dalam negeri dan, pada waktunya, di luar negeri. Hal ini karena salah satu aspek terpenting dari perjuangan adalah membongkar rencana-rencana kaum kolonialis.
Political struggle means we must be aware that the Western colonialists, especially the British and the Americans, work in every colonised country to help their agents including those who are passive, those who want to live in the darkness, those who advocate colonialist policies and their intellectual leadership, in addition to the ruling class. These colonialists will do everything to provide assistance to their agents in the different regions so as to obstruct this Islamic liberation movement. The West will provide these agents with funds and all the assistance and forces they need to destroy this movement. For example, the colonialists and their agents will embark on a slandering campaign against this Islamic liberation movement, by making false accusations, such as; it is being employed by the colonialists, it is inciting internal feuds, or trying to provoke the world against the Muslims, or its ideas contradict with Islam, etc. Those involved in this struggle should be aware of the colonialist policies and of its plans and styles so as to expose the colonialist’s plans internally, and externally in due course. This is because one of the most important aspects of the struggle is to expose the plans of the colonialists.
Oleh karena itu, Hizbut Tahrir berupaya membebaskan negeri-negeri Islam dari segala bentuk penjajahan. Hizb berdiri menentang penjajahan tanpa ragu-ragu, dan tidak menginginkan sekadar penarikan militer dari negeri-negeri Islam maupun kemerdekaan semu bagi negeri-negeri tersebut. Sebaliknya, Hizb berupaya menghapus situasi yang ditetapkan oleh para penjajah kafir, dengan membebaskan negeri, lembaga, dan pemikiran dari pendudukan, baik yang bersifat militer, intelektual, budaya, ekonomi, maupun lainnya. Hizb menentang siapa pun yang membela atau mendukung aspek mana pun dari penjajahan, hingga kehidupan Islam kembali ditegakkan melalui berdirinya Negara Islam, yang akan menyampaikan risalah Islam ke seluruh dunia. Kami memohon kepada Allah (SWT) dan berdoa kepada-Nya agar Dia (SWT) memberikan pertolongan-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menunaikan tanggung jawab yang berat ini. Sesungguhnya Dia adalah As-Samee' (Maha Mendengar), Al-Mujeeb (Maha Mengabulkan).
Therefore, Hizb ut-Tahrir, works to liberate the Islamic lands from all forms of colonialism. It stands against colonialism without hesitation and it seeks neither military evacuation of the Islamic lands nor their false independence, rather it works for removing the situations established by the kafir colonialists, by liberating the lands, institutions, and the thoughts from occupation, whether it is military, intellectual, cultural, economical or other. The Hizb stands against anyone who defends or advocates any aspect of colonialism, until the Islamic way of life is resumed through the establishment of the Islamic state, which will carry the message of Islam to the whole world. We ask Allah (swt), and pray to Him that He (swt) provides us with His help, so we may carry out these heavy responsibilities. Truly He is As-Samee’a, Al-Mujeeb.
Hizb ut-Tahrir.
Hizb ut-Tahrir.
Hizb ut-Tahrir adalah sebuah partai politik yang berideologi Islam, dan tujuannya adalah mengembalikan kehidupan Islam dengan mendirikan Negara Islam yang menerapkan Islam dan menyebarkan dakwahnya ke seluruh dunia. Hizb ini telah mengembangkan budaya partai yang mencakup hukum-hukum Islam tentang urusan kehidupan. Hizb menyerukan Islam sebagai kepemimpinan intelektual, dari mana lahir sistem-sistem yang menjawab seluruh persoalan yang dihadapi manusia, baik politik, ekonomi, budaya, sosial, maupun lainnya. Hizb ini adalah partai politik yang anggotanya terdiri dari laki-laki dan perempuan. Hizb menyerukan seluruh manusia kepada Islam dan untuk mengadopsi konsep serta sistemnya, dan memandang segala sesuatu dari sudut pandang Islam, tanpa memandang kewarganegaraan dan mazhab pemikiran mereka. Hizb bergantung pada interaksi dengan Ummah untuk mencapai tujuannya. Hizb menentang kolonialisme dalam segala bentuknya dan bertujuan membebaskan Ummah dari kepemimpinan intelektual kolonialis, serta menghapus pengaruh budaya, politik, militer, dan ekonominya dari negeri-negeri Islam. Hizb juga bertujuan mengubah konsep-konsep yang keliru dan menyimpang yang disebarkan oleh kolonialisme, yang membatasi Islam hanya pada ibadah pribadi dan akhlak.
Hizb ut-Tahrir is a political party, whose ideology is Islam and its goal is to resume the Islamic way of life by establishing the Islamic state which implements Islam and carries its da’wah to the world. The Hizb has developed a party culture, which includes Islamic rules about life’s affairs. The Hizb calls for Islam as an intellectual leadership from which emanate systems that address all problems faced by human beings, whether political, economical, cultural, social and others. It is a political Hizb whose members include both men and women. It calls all people to Islam and to adopt its concepts and systems and views them, no matter what their nationalities and schools of thought, from the Islamic outlook. It relies on interaction with the Ummah to achieve its goal. It stands against colonialism in all its forms and aims to liberate the Ummah from the colonialist intellectual leadership and to remove its cultural, political, military, and economical influence from the Islamic lands. It also aims to change the erroneous and distorted concepts spread by colonialism that restrict Islam to personal worship and morals.